Menyikapi Masalah

Dalam mengarungi kehidupan ini, adakalanya kita dihadapkan pada badai kehidupan. Ada hal yang dapat kita ambil pelajaran dari seekor elang.

Elang mampu terbang tinggi dengan melewati angin yang kencang dan badai menerpanya. Apakah sahabat tau apa yang dilakukan elang saat badai menghampirinya? Ada hal yang menarik disini yang dapat kita pelajari.

Elang akan terbang ke tempat yang tinggi dan menunggu angin dan badai sambil membuka lebar-lebar sayapnya. Ketika badai datang, maka angin akan mengambil dan mengangkat tubuh elang ke atas badai. Sementara badai mengamuk di bawah, elang ini melonjak di atasnya.

Elang tidak luput badai. Ini adalah cara sederhana untuk memanfaatkan badai untuk mengangkat tubuhnya lebih tinggi. Elang terbang tinggi bersama angin yang membawa badai.

Ketika badai kehidupan datang kepada kita – dan kita semua akan mengalami
seperti yang elang alami – kita dapat naik di masalah dengan menetapkan pikiran kita dan keyakinan kita bahwa kita akan melewati masalah itu. Badai tidak harus kita atasi. Tapi kita punya pilihan untuk memanfaatkan masalah untuk meningkatkan kualitas kita.

Masalah bukanlah beban yang memberatkan kehidupan kita, namun ini adalah pelajaran dan pendidikan dari Allah, ini adalah cara untuk menaikkan kualitas kita. dan pelajaran bagaimana menangani masalah dengan berbekal keyakinan dan kemantapan hati. Bukan dengan keputusasaan dan ketakutan. Tidaklah masalah menimpa suatu kaum, melebihi kemampuan kaum itu.

Saat masalah itu datang, lebarkan hati dan katakan, selamat datang masalah.

Sumber : http://www.resensi.net/menyikapi-masalah/2010/12/#more-979

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Uluran Tangan

Suatu ketika di negeri antah berantah, terdapat suatu daerah yang banyak sekali bencana alam yang menimpa. Hal ini membuat meledaknya jumlah deretan nama anak yatim, orang-orang trauma dan putus asa, manula yang tidak tahu harus mengadu kemana tentang nasib mereka dan masih banyak jenisnya. Kesemua dari mereka adalah orang yang kesusahan.

Perdana menteri sering berkunjung ke daerah tersebut, sambil membawa bantuan yang cukup meringankan beban keseharian rakyatnya. Pada suatu ketika, oleh perdana menteri anak-anak yatim dikumpulkan kemudian dipindahkan ke daerah yang lebih tenang dan kehidupan warganya dalam keadaan yang maju dan termasuk dalam ekonomi kuat.

Suatu ketika di negeri antah berantah, terdapat suatu daerah yang banyak sekali bencana alam yang menimpa. Hal ini membuat meledaknya jumlah deretan nama anak yatim, orang-orang trauma dan putus asa, manula yang tidak tahu harus mengadu kemana tentang nasib mereka dan masih banyak jenisnya. Kesemua dari mereka adalah orang yang kesusahan.

Perdana menteri sering berkunjung ke daerah tersebut, sambil membawa bantuan yang cukup meringankan beban keseharian rakyatnya. Pada suatu ketika, oleh perdana menteri anak-anak yatim dikumpulkan kemudian dipindahkan ke daerah yang lebih tenang dan kehidupan warganya dalam keadaan yang maju dan termasuk dalam ekonomi kuat.

sumber : http://www.resensi.net/uluran-tangan/2011/02/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peran Komunikasi Dalam Pemasaran

Komunikasi pada dasarnya adalah semua praktik yang dilakukan untuk memberikan atau saling bertukar informasi. Secara spesifik, seperti yang dikatakan oleh Schifmann dan Kanuk, komunikasi adalah transmisi pesan dari pengirim ke penerima dengan menggunakan suatu bentuk signal yang dikirim melalui suatu media tertentu. Dari definisi tentang komunikasi yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat diambil beberapa kata kunci yang harus dicermati. Diantaranya adalah :

1. Pengirim (sumber )
Dalam komunikasi pemasaran, sumber adalah perusahaan atau produsen atau pemasar, manajer promosi, agen periklanan, staf penjualan dan juru bicara organisasi. Sumber mempunyai pesan yang akan ditransmisikan kepada penerimanya. Dalam hal ini, sumber mempunyai motivasi dan kepentingan tertentu, yaitu untuk memberikan informasi yang bias mempengaryhi penerima pesan itu agar tujuan untuk menjual produk atau jasanya berhasil, dan dengan demikian tujuan perusahaan juga berhasil.


2. Pesan ( signal )
Pesan yng sudah ada diubah melalui proses encoding yang bisa berupa signal verbal, misalnya dengan percakapan menggunakan bahasa tertentu, atau tulisan dan gambar yang bisa dibaca dan dilihat oleh konsumen. Dan juga bisa dalam bentuk non verbal, seperti gerakan tubuh atau bahasa tubuh, bau atau aroma, warna, sentuhan, dan lain-lain. Signal itu sendiri mempunyai arti bagi yang mengetahuinyaatau yang berkepentingan terhadapnya.

3. Penerima ( audiens )
Penerima pesan menerima signal yang ditransmisikan oleh sumber kepadanya melalui proses decoding. Dalam komunikasi pemasaran, penerima pesan adalah konsumen sasaran yang sebagai individu-individu mempunyai latar belakang kepribadian, lingkungan dan gaya hidup yag berlainan. Komunikasi pemasaran ditujukan pada massa yang sifatnya sangat variatif. Agar komunikasi tersebut berhasil, pemasar harus benar-benar memahami kepribadian, sikap, perilaku, kebiasaan dan segalasesuatu yang membentuk sosok kansumen sasaran.

4. Media ( jalur komunikasi )
Media bisa berbentuk media impersonal atau yang disebut juga dengan media massa. Atau, bisa berbentuk interpersonal yang berupa percakapan formal antara staf penjualan dengan konsumennya, percakapan informal antara dua orang atau lebih pada saat tatap muka, melalui telepon, pos, ataupun internet. Dalam praktiknya impersonal maupun interpersonal sudah menjadi kabur dengan dilakukannya komunikasi interaktif melalui televisi. Dewasa ini semakin banyak pemasar yang mempunyai situs Web, dengan maksud supaya konsumen dapat mengunjungi situs tersebut, dan apabila mereka bertanya tentang produknya, pemasar dapat meresponsnya.

Pemasar diharapkan mengerti secara keseluruhan perilaku konsumen sehingga dapat lebih tepat merancang komunikasi yang akan mempengaruhi konsumen sasaran untuk berperilaku seperti yang dikehendaki pemasar. Perlu diketahui bahwa komunikasi diterima oleh manusia melalui kelima inderanya. Belaian (kulit), rasa (lidah), bau (hidung), penglihatan (mata), dan bunyi (telinga).

Setelah diadakan promosi diharapkan audiens, yaitu adanya pembelian dan kepuasan yang tinggi. Pembelian adalah akhir dari komunikasi. Pembeli juga memiliki keterikatan yang tinggi dengan produk yang dikonsumsinya. Ada enam hal yang dapat menjelaskan komunikasi tersebut, yaitu :

1. Kesadaran (Awareness)
Jika sebagian besar audiens sasaran tidak menyadari obyek tersebut, maka tugas komunikator adalah membangun kesadaran dari mengenai produk dan terus mengenalkan produk ke audiens.
2. Pengetahuan(Knowledge)
Diharapkan audiens memiliki kesadaran tentang produk yang telah dikeluarkan dan jangan sampai audiens tidak mengetahui produk tersebut.
3. Menyukai (Liking)
Dapat mengetahui perasaan mereka terhadap produk yang dikonsumsi oleh audiens, sehingga audiens dapat menyukai produk tersebut.
4. Preferensi (Preference)
Dapat dikatakan audiens menyukai produk tersebut dan lebih memilih produk itu disbanding produk lain.
5. Keyakinan (Conviction)
Audiens diharapkan yakin untuk membeli produk yang sudah dipilihnya.
6. Pembelian (Purchase)
Pembelian yang dilakukan audiens, adalah tahap terakhir dalam komunikasi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Konsep Siklus Hidup Produk

Suatu perusahaan harus mengetahui siklus hidup suatu produknyadi pasar. Hal ini di samping mengetahui life time produk itu sendiri, tetapi harus juga mengetahui tingkat kejenuhan pasar atas produk itu sendiri. Dalam hal ini ada hubungan yang erat antara bagian marketing dengan bagian produksi, dimana umumnya pada perusahaan besar, dalam organisasinya ada dua bagian yang menjembatani yaitu bagian Marketing Development dan Product Development. Siklus produk memiliki empat tahapan utama yang diantaranya:

1. Tahap Perkenalan
Tahap ini dimulai bila produk baru sudah didistribusikan untuk pertama kalinya dan tersedia dipasar untuk dibeli masyarakat. Jumlah keuntungan yang diperoleh selama tahap ini sangat sedikit, atau bahkan merugi akibat rendahnya hasil penjualan yang disertai dengan tingginya biaya distribusi dan promosi. Dana dalam jumlah besar diperlukan untuk menarik para distributor dan mengisi jalur distribusi.

2. Tahap Pertumbuhan
Tahap ini ditandai dengan adanya peningkatan penjualan. Konsumen awal merasa senang dan konsumen berikutnya mulai membeli. Pesaing baru mulai memasuki pasar, harga bertahan atau sedikit turun, laba meningkat. Strategi untuk mempertahankannya adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan kualitas produk dan menambah ciri produk.
2. Menambah model baru dan produk penyerta (berbagai ukuran, rasa) untuk melindungi produk utama.
3. Memasuki segmen pasar baru.
4. Meningkatkan cakupan dan saluran distribusi.
5. Beralih dari iklan yang membuat orang menyadari produk (product awareness advertising), ke iklan yang membuat orang memilih produk tertentu (product preference advertising).
6. Menurunkan harga untuk menarik lapisan berikutnya yang sensitive terhadap harga.

3. Tahap Kedewasaan
Tahap ini biasanya berlangsung lebih lama dari tahap sebelumnya dan merupakan tantangan berat bagi manajer pemasaran. Ada tiga fase kedewasaan bertumbuh (growth maturity), tingkat pertumbuhan penjualan mulai menurun, tidak ada saluran distribusi baru. Fase kedua adalah kedewasaan stabil (stable maturity), penjualan datar, konsumen jenuh, hanya mengandalkan pertumbuhan populasi. Fase ketiga kedewasaan menurun (decaying maturity), penjualan menurun, pelanggan mulai memilih produk lain, dan substitusi. Strategi untuk bertahan diantaranya :
1. Modifikasi pasar, dengan konsep menarik perhatian orang yang bukan pemakai.
2. Memasuki segmen baru.
3. Memenangkan pelanggan pesaing.
4. Modifikasi produk.
5. Modifikasi bauran pasar, yaitu dengan diskon harga, distribusi, iklan, penjualan personil, dan pelayanan.
4. Tahap Penurunan

Penurunan bisa cepat atau lambat, karena alasan teknologi, pergeseran selera konsumen, meningkatnya persaingan. Mempertahankan produk adalah beban bagi perusahaan maupun karyawan. Strategi untuk bertahan dengan cara :
1. Meningkatkan investasi perusahaan untuk mendominasi atau memperkuat posisi pasar.
2. Mempertahankan level investasi sampai ketidak pastian industry itu terselesaikan.
3. Mengurangi investasi secara selektif dengan melepas pelanggan yang tidak menguntungkan.
4. Menuai investasi untuk memulihkan cash secepatnya.
5. Melepas bisnis secepat mungkin dengan melepas asetnya.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pengertian Organizational Citizenship Behavior (OCB).

OCB merupakan kontribusi individu yang melebihi tuntutan peran di tempat kerja dan di-reward oleh berdasarkan hasil kinerja individu. OCB ini melibatkan beberapa perilaku meliputi perilaku menolong orang lain, menjadi volunteer untuk tugas-tugas ekstra, patuh terhadap aturan-aturan dan prosedur-prosedur di tempat kerja. Perilaku-perilaku ini menggambarkan "nilai tambah karyawan." Organ (1997) mendefinisikan OCB sebagai perilaku individu yang bebas, tidak berkaitan secara langsung atau eksplisit dengan sistem reward dan bisa meningkatkan fungsi efektif organisasi. Organ (1997:126) juga mencatat bahwa Organizational CitizenshipBehavior (OCB) ditemukan sebagai alternatif penjelasan pada hipotesis "kepuasan berdasarkan performance".

Sementara itu Van Dyne yang mengusulkan konstruksi dari ekstra-role behavior (ERB) yaitu perilaku yang menguntungkan organisasi dan atau cenderung nenguntungkan organisasi, secara sukarela dan melebihi apa yang menjadi tuntutan peran. Organ (1997: 135) menyatakan bahwa definisi ini tidak didukung penjelasan yang cukup, "peran pekerjaan" bagi seseorang adalah tergantung dari harapan dan komunikasi dengan pengirim peran tersebut. Definisi teori peran ini menempatkan OCB atau ERB dalam realisme fenomenologi, tidak dapat diobservasi dan sangat subyektif. Definisi ini juga menganggap bahwa intensi aktor adalah "untuk menguntungkan organisasi".
Borman dan Motowidlo mengkonstruksi contextual behavior tidak hanya mendukung inti dari perilaku itu sendiri melainkan mendukung semakin besarnya lingkungan organisasi, sosial dan psikologis sehingga inti teknisnya berfungsi. Definisi ini tidak dibayangi istilah sukarela, reward atau niat sang aktor melainkan perilaku seharusnya mendukung lingkungan organisasi, sosial dan psikologis lebih dari sekedar inti teknis.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Organisational Citizenship Behavior (OCB) merupakan:
• Perilaku yang bersifat sukarela, bukan merupakan tindakan yang terpaksa terhadap hal-hal yang mengedepankan kepentingan organisasi
• Perilaku individu sebagai wujud dari kepuasan berdasarkan performance, tidakdiperintahkan secara formal
• Tidak berkaitan secara langsung dan terang-terangan dengan sistem reward yang formal.

sumber :
- Organ, 1997, Introduction to Industrial and Organization Psychology. London:Scott, Forestman and Company.
- Kalbers dan Fogarty, 1995, Pan cultural Explanation for Job Satisfaction: Adding Relationship Harmony to Self-Esteem. Journal of Applied Psychology,73(5):1038-1051.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS